Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Kemarahan yang Tepat

“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” (Yakobus 2 : 13)

Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki – laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tak lama kemudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. “Andika, kamu nanti datang ke kantor Bapak, jam 3 sore.” Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika berwajah pucat pasi. “Baik Pak,” ia menjawab lemah. Habis aku! Pasti akan dimarahi dan dikenai sanksi gara – gara perkelahian tadi, begitu pikir Andika. Tepat pukul 3 sore, Andika telah ada di depan kantor dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Jantungnya berdegup keras dan tubuhnya serasa lunglai. “Masuk!” Terdengar suara dari dalam. Andika pun masuk. Dengan takut – takut, ia berdiri dekat meja kepala sekolah, sambil menundukkan kepalanya dalam – dalam. “Duduklah Andika. Kamu tentu sudah bisa menebak, kenapa Bapak memanggilmu kan? Tentu berkaitan dengan perkelahianmu tadi. Andika telah mendengar peraturan tentang tidak boleh berkelahi di dalam lingkungan sekolah, apalagi di kelas. Tetapi ada beberapa hal yang ingin bapak sampaikan berkaitan dengan kasusmu ini. Pertama, bapak senang kamu datang tepat waktu, itu menunjukkan kamu adalah anak yang disiplin.”

Beliau membuka laci mejanya, mengambil sebuah permen, dan meletakkannya di meja. “Kedua, bapak menghargai kedatanganmu saat ini. Artinya kamu menghargai bapak sebagai guru dan kepala sekolahmu. Kamu adalah anak yang berjiwa besar dan siap bertanggung jawab. Betul begitu Andika? Kembali Andika mengiyakan. Beliau mengambil permen dan meletakkannya lagi di meja. “Bapak sudah berbicara dengan guru yang melerai perkelahian dan mendengar dari beberapa temanmu. Kamu berkelahi dengan Rudi karena membela teman perempuan yang dilecehkan olehnya. Benar begitu? Bapak salut. Ini pertanda kamu adalah seorang gentlemen, laki – laki sejati. Tapi ingat : berkelahi bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Andika harus lebih bijak.” Kepala sekolah meletakkan sebuah permen lagi di atas meja. “Nah yang terakhir, Bapak yakin kamu akan berubah dan akan maju di kemudian hari. Belajar lebih baik lagi Andika, oke?” Sambil tersenyum, beliau menambahkan satu buah permen lagi di meja dan menyodorkan permen – permen tersebut ke arah Andika. “Ambillah hadiah dan kenang – kenangan dari Bapak ini!” Andika yang awalnya ketakutan akan mendapat hukuman, tidak menyangka justru mendapat “penghargaan” dari kepala sekolahnya, dia pun mengangguk mantap. “Terima kasih Pak. Saya sangat terkejut. Bapak tidak menghukum saya bahkan memuji dan menghargai saya. Saya berjanji, pasti berubah dan akan lebih rajin belajar untuk masa depan saya sendiri.”

Sobat Talenta, sebuah kemarahan adalah hal yang lumrah dilakukan oleh semua orang. Tetapi yang menjadi perenungan kita hari ini, apakah kita meluapkan kemarahan pada hal yang tepat? Kemarahan yang benar dibentuk oleh kasih Allah dan oleh karenanya, kita harus bijaksana untuk mengungkapkannya pada waktu yang tepat. Selain itu kemarahan yang benar dilakukan dengan tindakan ketika hal itu memang diperlukan. Marahlah dengan sebuah penyelesaian masalah karena kemarahan yang seperti itulah yang akan membawa kepada perubahan. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s