Posted in Uncategorized

Baik dan Terbaik

“Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak..” (Amsal 16 : 16)

Tersebutlah pada suatu masa, hidup 2 makhluk bersahabat, seekor kera dan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon yang tumbuh di pinggir sungai – tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk ngobrol dan bertukar pikiran bersama – sama. Kadangkala kelakar terjadi pula di antara mereka. Sungguh persahabatan yang indah. Hingga suatu saat kera sedang bertengger di atas dahan tertinggi. Dari sana ia melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai. Dan dengan kecepatan yang tinggi banjir bandang siap segera menerjang ke tempat yang lebih rendah, tempat tinggal kera dan ikan! Segera sang kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya berkata : “Hoi ikan!!! Dimana kau?”

“Aku disini kera”, jawab sang ikan. “Cepat kemari, banjir badang akan melanda tempat ini dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini.” “Tapi kera…” Jawab sang ikan, “Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat!! Yang penting kau aman.” Tegas kera sambil segera menyambar sang ikan dari dalam air.Setelah itu segera ia beranjak, melompat ke dahan tertinggi sambil memeluk erat sang ikan sahabatnya. Tak lama, datanglah banjir badang, menyapu bersih semua benda di seputar sungai. Satu jam lamanya banjir mendera semua wilayah di sekitar sungai itu. Sampai akhirnya banjir surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya, demi keselamatan sang ikan.Setelah reda, sang kera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke sungai tempat tinggalnya. Dibuka tangannya, dan terlihat sang ikan masih tertidur menutup mata. “Hai ikan, bangun!” Serunya. Tapi ikan itu tetap diam. “Ikan…Ikan… Bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. Ayo melompatlah kau ke sungai, rumahmu”. Tapi ikan tak menyahut.”IKAN!!!…IKAN!!!” Kera berseru keras. Tersadarlah ia, ikan telah mati. Mati akibat pelukannya. Mana ada ikan yang bisa tahan sekian lama hidup di luar air? Sekalipun banjir bandang melanda, air tetaplah tempat ternyaman bagi ikan. Dan bukan pelukan hangat sang kera di atas dahan yang jauh dari air. Itulah yang hendak disampaikan sang ikan pada mulanya, tapi kera tak peduli. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, sang ikan malah mati kekeringan.

Sobat Talenta, kadang dalam kehidupan ini, kita berharap sesuatu yang baik terjadi untuk diri kita dan orang – orang yang kita sayangi. Tetapi, sadarlah bahwa yang baik itu belum tentu yang terbaik untuk diri kita atau orang – orang yang kita sayangi. Ingat sebuah kisah Alkitab, dimana Yunus beranggapan bahwa lebih baik ia ke Tarsis daripada ia menurut ke Niniwe kota yang dianggapnya jahat. Tetapi, bisa kita lihat bahwa apa yang baik menurut Yunus ternyata bukan yang terbaik untuknya. Ia malah mengalami sebuah bencana. Jadi saat ini, marilah dalam memutuskan sesuatu, kita meminta hikmat dari Tuhan untuk membedakan mana yang baik dan yang terbaik dalam kehidupan kita. Jangan sampai yang menurut kita baik, justru hal itu membawa kematian untuk kita. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s