Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Akhir Sebuah Kehidupan

thomas-more“Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4 : 14)

Ada sejuta kesempatan kedua yang diberikan kepada manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, akan menjadi sia – sia jika kita tidak mengambilnya.

Salah seorang sahabat St. Thomas More adalah penjudi. Santo Thomas More biasanya menasehatinya supaya menghentikan cara hidup yang demikian dan berbalik kepada Tuhan, namun sahabatnya yang penjudi itu selalu berkata “Saya akan melakukannya di saat terakhir hidup saya,” itulah jawabnya.

“Tapi bagaimana jika kamu tiba – tiba meninggal dan tidak ada waktu untuk bertobat?” Kata Santo Thomas More. Namun sekali lagi sahabatnya itu selalu dapat berdalih dengan berkata “Itu bukan masalah sulit. Keberuntungan selalu ada di pihak saya. Jika hal itu terjadi, ada tiga kata yang bisa menyelamatkan saya. Saya setidaknya memiliki waktu untuk berkata, ‘Tuhan, ampunilah saya’, dan saya akan diampuni.”

Suatu hari, mereka berdua, yaitu Santo Thomas More dan sahabatnya yang penjudi itu menunggang kuda pulang ke rumah. Tiba – tiba, ketika menyeberangi jembatan, kuda – kuda mereka menjadi liar tak terkendalikan. Kuda penjudi itu melonjak dan melemparkannya hingga jatuh dan kepalanya pecah terkena batu. Ketika menarik nafas, ia merasa bahwa masih ada waktu baginya untuk mengucapkan tiga kata pertobatannya, namun karena kesakitan kalimat yang meluncur keluar dari mulutnya adalah “Sungguh Setan Sial!,” dia berteriak dan kemudian ia meninggal. Si penjudi diberi peluang untuk berubah selama berkali – kali, namun mengabaikannya. Sampai akhirnya semuanya terlambat.

Sobat Talenta, bila kita mau jujur, sesungguhnya ada begitu banyak kesempatan yang telah Tuhan berikan bagi kita. Kesempatan untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Tapi bagaimana respon kita? Sudahkah kita menanggapinya dengan cepat dan tepat? Atau kita malah mengulur – ulur waktu dan berkata “nanti dan nanti”?. Bila saat ini Tuhan masih memberi nafas hidup, itu seperti yang benar – benar Tuhan mau. Ada begitu banyak orang yang lebih senang hidup dalam dosa dan menunda untuk datang bertobat pada Tuhan dengan alasan : “Nanti saja aku bertobat jika sudah tua atau bahkan jika sudah mau mati, sekarang biarkan aku menikmati kehidupanku seperti yang aku mau.”

Namun yang menjadi persoalan adalah tidak ada seorangpun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir, dan bahkan bila seandainya ada orang yang tahu dan menyadari detik – detik terakhir dalam kehidupannya, jangan – jangan bukannya kata – kata pertobatan yang keluar dari mulutnya, namun justru makian dan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya akibat rasa sakit atau rasa terkejut yang dialaminya. Jadi, jangan bermain – main dengan kehidupan kekal, dan jangan pernah menunda untuk menerima anugerah dan kasih karuniaNya, karena kita tidak akan pernah tahu akhir dari kehidupan kita di dunia ini. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s