Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Memilih Melupakan

burung beo“Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37 : 24)

Dua ekor burung bernama cicit dan cuit memutuskan untuk membuat sarang pada cabang – cabang pohon cemara. Hari demi hari mereka mencari rerumputan kering. Dengan menjepit rumput – rumput itu di paruh, mereka pun mengantarnya ke cabang pohon cemara. Kedua burung itu bekerja keras, mematuk, menarik, dan merangkai. Tak lama kemudian terciptalah sebuah sarang yang cukup besar dan nyaman. Di situlah mereka tinggal selama berbulan – bulan. Mereka tidur, bercanda, bahkan bertelur di sarang itu, sehingga rasanya sarang itu sudah menjadi bagian hidup mereka.
Suatu hari seorang petani menebang pohon cemara tersebut. Kedua burung yang sudah berbulan – bulan lamanya tinggal di pohon itu terpaksa harus terbang meninggalkan sarang mereka. Beberapa butir telur menggelinding dan akhirnya pecah. Tak jauh dari situ, sambil bertengger di sebuah ranting kering, cicit dan cuit mengamati semua yang terjadi. Cicit sangat bersedih dan ia terus menangis sepanjang hari. Melihat kesedihan temannya, cuit berusaha menghibur : “Tenang saja kawan, tak perlu sedih. Kita masih bisa mencari tempat lain dan kita akan membangun sarang yang baru di sana.”
Namun, cicit terus meratapi nasibnya dan tidak mau beranjak dari ranting kering di mana ia bertengger. Merasa percuma membujuk temannya, cuit meninggalkan cicit dan terbang mencari pohon lain di mana ia bisa membangun sarang yang baru. Sedangkan cicit masih tetap bertengger di ranting kering sambil meratapi nasibnya. Panas, hujan, dan angin datang silih berganti, tetapi cicit tetap tinggal di ranting kering dalam kesedihan. Lama – kelamaan karena tidak lagi peduli dengan dirinya, cicit mati di ranting kering itu. Berbeda dengan nasib cicit, cuit yang memutuskan untuk pergi mencari pohon lain kini sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Ia membangun sarangnya di sebuah pohon beringin yang sangat rindang dan kokoh serta bertelur dan beranak pinak di sana.
Sobat Talenta, kehidupan tidak pernah menjanjikan sesuatu yang abadi. Banyak hal yang dapat berubah dan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Janganlah terperangkap dalam kesedihan dan penyesalan karena kenangan indah atau kejayaan yang pernah kita raih di masa lalu. Karena dalam kehidupan ini masalah, kegagalan pasti pernah terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi apakah kita akan terus berdiam dalam kesedihan atau kegagalan itu tanpa berbuat apa – apa? Jika kita terus diam tanpa mau memulai lagi sesuatu yang baru, maka dipastikan kita akan semakin terpuruk.
Jadi, apapun yang menjadi beban masa lalu kita saat ini, letakkanlah di hadapan Tuhan dan mulailah mengambil langkah yang baru untuk maju menuju kesuksesan. Jangan pernah menyerah, karena firman Tuhan pun berkata saat kita jatuh, Tuhan tak pernah membiarkan diri kita tergeletak. Masih ada kesempatan untuk kita menjadi lebih baik dan semakin baik saat ini, tanpa lagi dibayang – bayangi oleh masa lalu. Karena yang terpenting bukanlah dari mana kita berawal, atau dimana kita saat ini, namun yang terpenting adalah kemana kita akan menuju. Bagaimana menurut anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s