Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Persepsi dan Kenyataan

axe“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan : Jangan hidup lagi sama seperti orang – orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia – sia” (Efesus 4 : 17)

Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat dan menutupi peralatan kerjanya dengan kain, si penebang kayu merasa bahwa kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi senyuman tetangganya terasa tidak tulus. “Pasti dia pencurinya”, pikirnya. Besoknya, tetangganya itu bahkan terasa jadi ramah berlebihan. Karena si penebang kayu biasanya jarang menyapa, kali ini ia menyempatkan berbasa – basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali. Pastilah dia menebang menggunakan kapak curiannya.
Semakin dipikir semakin yakin. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yang sedang keluar kota rupanya menyimpannya disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri dan senyumnya juga tulus – tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?
Sobat Talenta, memanglah benar persepsi membentuk kenyataan. Pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Maksud dari kalimat di atas adalah sebagai berikut, contoh sederhana, saat kita mencintai seseorang maka apapun yang ia kerjakan buat kita adalah benar, padahal di mata orang lain belum tentu itu benar. Atau saat kita punya anak kecil, maka jika ia memukul orang yang menggendongnya itu terlihat sangat lucu, padahal itu suatu tindakan yang kurang ajar. Atau saat suami dan istri, dimana si istri tidak memberikan perpuluhan dengan alasan berhemat karena banyak kebutuhan dan sang suami mengiyakan. Kebenaran seringkali ditutupi dengan persepsi atau pola pikir kita terhadap seseorang atau suatu keadaan.
Jadi, marilah kita belajar untuk tidak buru – buru mengeluarkan sebuah persepsi dalam menghadapi sebuah keadaan, apalagi kalau persepsi itu keliru akibat tidak didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya, karena persepsi atau prasangka akan menentukan pemikiran kita, dan pemikiran kita akan menentukan perasaan kita, dan perasaan kita pada akhirnya akan menentukan tindakan kita. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s