Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Cepat Berprasangka

apples“Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama – sama dengan engkau” (Amsal 3 : 29)

Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “Kalau mama dan kamu sedang pergi bermain bersama, lalu kita kehausan tapi tidak ada air, dan kebetulan di dalam tas kecil kamu ada 2 buah apel, apa yang akan kamu lakukan?”
Si anak berpikir sejenak, lalu menjawab mantap, “Saya akan menggigit kedua apel tersebut.”
Mendengar jawaban si anak, ibunya pun kecewa. Awalnya ia berpikir untuk segera mengajarkan anaknya mengenai apa yang seharusnya dilakukan, namun sang ibu terdiam dan mencoba bersabar. Kemudian sang ibu berkata lembut sambil membelai sayang kepala anaknya, “Bisakah kamu beritahu mama alasannya, kenapa kamu melakukan itu?”
Si anak pun menjawab dengan lugu, sambil matanya berbinar cerah. “Karena…karena saya mau memberikan apel yang lebih manis kepada mama.” Begitu mendengarnya, hati sang ibu pun tersentuh. Tanpa terasa, air mata haru pun jatuh membasahi pipinya.
Sobat Talenta, kisah diatas memberikan kita renungan tentang prasangka dan memberikan yang terbaik. Dalam kehidupan ini, mungkin kita pernah berprasangka buruk terhadap orang lain, sebagai contoh, “Loh kita khan sama – sama memberi persembahan tetapi kok dia lebih diberkati ya?” Atau contoh lain, “Dia kok hidupnya makin sukses saja, jangan – jangan dia tidak memberikan perpuluhannya khan pasti perpuluhannya makin banyak, gak mungkin dech dia kasih.” Atau berbagai prasangka buruk yang lainnya.
Ya, memang benar, dalam memberikan persembahan, yang terpenting bukanlah seberapa besar persembahan yang kita berikan tetapi apakah itu persembahan yang terbaik yang sudah kita berikan kepada Tuhan. Persembahan yang terbaik ini juga berbicara sikap hati kita dalam memberi, apakah kita masih menaruh prasangka kepada orang lain, atau persembahan yang kita berikan hanya untuk menyaingi orang lain. Sebagai contoh, kisah Kain dan Habel. Kain dan Habel memberikan apa yang mereka punya kepada Tuhan, namun persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan karena sikap hatinya yang tidak benar dalam memberikan, berbeda dengan Habel yang memberikan dengan sikap hati yang benar, Jadi, mulai saat ini ketika kita memberikan persembahan untuk Tuhan, jangan pernah untuk berprasangka buruk dengan persembahan yang orang lain berikan, karena persembahan berbicara pribadi lepas pribadi dengan Tuhan, dan sebelum kita melihat kenyataan atau alasan yang sesungguhnya dibalik tindakan atau keputusan seseorang, janganlah cepat – cepat berprasangka, karena hal itu akan merugikan diri kita dan hubungan kita dengan orang lain, ataupun dengan orang – orang yang kita kasihi. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s