Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Saksi Atau Batu Sandungan?

“…dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1 : 8b)

Suatu hari ketika hendak berangkat ke kantor, saya menabrak seseorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” itu adalah reaksi pertama saya.

Ia berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Ketika sore hari pulang dan saya tengah sibuk untuk memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam – diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata – kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara kepadaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi terhadap anak – anak yang engkau kenal dan kau kasihi, sepertinya engkau justru berlaku dengan sewenang – wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga di dekat pintu. Bunga – bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu, merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu, ketika ia berdiri di belakangmu untuk membuat kejutan, telah menghalangi jalanmu dan membuatmu menyenggol dirinya dengan kasar”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan – pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku. Anakku segera bangun dan ia tersenyum padaku. “Apakah bunga – bunga ini engkau petik untukku?”

Dengan senyum mungilnya dan tanpa dendam, dia menjawab : “Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga – bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

Sobat Talenta, dalam kehidupan ini kita seringkali bisa bersikap ramah dan lemah lembut kepada orang yang mungkin tidak kenal atau baru saja kita kenal, namun berbeda jika kita bertemu dengan orang – orang yang setiap hari ada di sekeliling kita. Padahal, kita seharusnya bisa menjadi dampak untuk orang – orang yang ada di sekeliling kita terlebih dahulu, dengan mengasihi mereka ataupun bersikap ramah terhadap mereka. Karena Firman Tuhan berkata, “…dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Jadi, sudahkah kita siap untuk menjadi saksi Kristus dimulai dari keluarga kita terlebih dahulu? Jangan hanya bersikap ramah dan baik terhadap orang yang mungkin hanya sesekali kita jumpai, namun mari juga bersikap lebih baik dan lebih ramah terhadap orang yang berkali – kali kita jumpai, karena percuma saja kita menjadi saksi yang baik bagi orang yang jauh disana, bila yang di dekat kita justru menganggap kita sebagai batu sandungan. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s