Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Arti Sebuah Persahabatan

friends“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17 : 17)

Ini kisah nyata yang terjadi pada seorang anak perempuan yang bernama Sindhu disebuah kota di India. Ia sangat tidak suka dengan makanan curd rice, namun ibunya selalu memaksanya. Suatu hari sang ayah membujuknya untuk memakan makanan itu dengan berkata, “Anak ayah, maukah kau makan sedikit saja curd rice ini? Karena kalau kau tidak memakannya pasti ibumu akan teriak – teriak sama ayah.” Akhirnya dengan berat hari Sindhu berkata, “Ayah, baiklah aku akan menghabiskan semuanya, tetapi ayah harus janji akan menuruti sebuah permintaanku?”
Dengan ragu sang ayah berkata, “Baiklah, asal itu tidaklah mahal karena ayah belum punya uang.” Sindhu meyakinkan bahwa itu bukan sesuatu yang sangat mahal. Akhirnya dengan terpaksa dan menahan rasa mual di perutnya ia menghabiskan curd rice tersebut sedikit demi sedikit. Dalam hati sang ayah, ia tak tega melihat putri kecilnya harus menghabiskan itu. Akhirnya semangkuk curd rice pun habis, namun sungguh tak disangka, ternyata permintaan Sindhu adalah agar kepalanya dipotong botak, permintaan yang sungguh tak masuk akal, seorang putri kecil dengan kepala botak. Sang Ayah berusaha membujuknya untuk mengganti permintaan itu, namun Sindhu kecil berkata, ‘Ayah tahu betapa menderitanya aku tadi dan ayah sudah berjanji padaku. Tetapi kenapa sekarang ayah tak mau menepatinya? Bukankah ayah sendiri yang mengajariku untuk memenuhi janji yang sudah pernah kita ucapkan.” Akhirnya dengan berat hati, sang ayah menuruti kemauan putrinya. Kini kepala Sindhu sudah botak, dan hari ini sang ayah mengantarnya ke sekolah dengan penampilannya yang botak itu. Sesampainya di sekolah ada seorang anak laki – laki botak keluar dari mobil dan memanggil Sindhu. Kepala anak itu juga botak, dan sang ayah mulai berpikir mungkin itu trend sekarang. Tak lama berselang, dari mobil anak laki – laki itu keluar seorang wanita menghampiri ayah Sindhu dan berkata, “Putri bapak sangat hebat. Anak laki – laki saya sudah satu bulan tak mau pergi ke sekolah karena takut diejek teman – temannya. Ia menderita leukimia dan kemoterapi sudah membuatnya botak. Tetapi hari Minggu kemarin Sindhu ke rumah saya dan berkata kepada Harish anak saya, bahwa ia akan mengatasi semuanya. Tetapi saya tak pernah menyangka bahwa Sindhu akan mengorbankan rambutnya supaya anak saya mendapat teman yang juga berkepala botak, sehingga tidak lagi merasa malu.”
Rambut adalah mahkota bagi wanita, dan anak kecil di atas sudah mengajarkan kepada kita, ia mengorbankan hal yang berharga itu untuk sebuah persahabatan. Kasih, memang tak mengenal batas. Apapun bisa dikorbankan untuk kasih, bahkan hal yang paling berharga. Pelajaran yang mulia dari seorang anak kecil, hari ini mengingatkan kepada kita tentang arti sebuah simpati dan empati kepada sesama. Jika seorang anak kecil saja bisa melakukan hal itu, bagaimana dengan kita? Mampukah kita memberikan apa yang berharga untuk orang lain bahkan terlebih lagi untuk Tuhan? Jadi, mari tidak mengasihi Tuhan dan sesama hanya dalam ungkapan dan perkataan saja. Namun mari belajar untuk menerjemahkannya dalam tindakan. Karena satu tindakan jauh lebih berarti daripada seribu kata – kata. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s