Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Bahaya dari Tradisi

kalkun“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.” (Matius 6 : 1)

Bangsa Amerika memiliki satu hari khusus yang disebut hari pengucapan syukur (Thanks Giving) yang dirayakan setiap kamis keempat pada bulan November. Pada hari itu bangsa Amerika mengucap syukur atas berkat – berkat Tuhan dalam hidup mereka, serta makan masakan istimewa (daging kalkun panggang) bersama keluarga dan beramal.
Ada seorang laki – laki yang sangat menghormati hari pengucapan syukur itu. Setiap tahun ketika hari ini tiba, ia selalu mentraktir seorang gelandangan untuk makan kalkun di restaurant terkenal. Selama beberapa tahun terakhir, ia mentraktir seorang gelandangan yang sama hingga mereka menjadi sahabat baik. Suatu kali pada hari pengucapan syukur gelandangan ini berjalan melewati rumah – rumah orang kaya dalam perjalanan menuju ke taman tempat biasanya ia bertemu dengan sahabatnya itu. Tetapi di tengah jalan, seorang ibu keluar, menarik tangan gelandangan itu, dan membawanya masuk ke rumahnya. Ibu ini sudah mengucapkan janji untuk menjamu gelandangan pertama yang lewat rumahnya dan kebetulan ia yang pertama kali lewat. Banyak makan dan minuman enak disajikan di depannya; tak lupa juga daging kalkun panggang. Setelah makan sampai kenyang, gelandangan itu mengucap terima kasih dan berjalan ke taman. Ia mencari bangku taman yang kosong, membaringkan tubuhnya, dan tidur kekenyangan. Beberapa saat kemudian, laki – laki yang setiap tahun mentraktirnya datang ke taman. Seperti biasa, ia mengajak gelandangan itu makan kalkun di restauran favorite mereka. Kalau biasanya undangan itu dia nanti – nantikan dengan penuh harap, kali ini undangan itu dirasa seperti musibah, karena dirinya sudah amat kekenyangan. Namun, karena sudah tradisi, ia tidak bisa menolak. Mereka berdua berjalan ke restaurant langganan mereka. Laki – laki itu memesan kalkun panggang seperti biasa dan menyaksikan gelandangan itu makan. Ia sendiri tidak ikut makan. Dengan susah payah gelandangan yang sudah kekenyangan itu menghabiskan makanannya. Akhirnya tibalah saat perpisahan mereka. Mereka bersalaman dan berjanji bertemu lagi tahun berikutnya. Gelandangan itu berjalan kembali ke taman, tetapi di tengah jalan ia sudah tidak kuat lagi. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan ditemukan sudah meninggal karena kekenyangan. Beberapa saat kemudian, laki – laki yang lain dilarikan ke rumah sakit yang sama, namun ia meninggal karena kelaparan. Ternyata ia adalah laki – laki yang mentraktir gelandangan itu. Karena krisis ekonomi, ia terpaksa menghemat luar biasa dan tidak makan selama beberapa minggu hanya supaya bisa mentraktir sahabatnya itu sesuai tradisi. Pada hari H, ia tidak kuat lagi dan mati kelaparan.
Sobat Talenta, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari cerita di atas. Banyak orang, seringkali melakukan sesuatu hanya demi menjaga tradisi. Dalam beribadah, berdoa, mengucap syukur, dan beramal, semua dilakukan hanya demi menjaga tradisi tanpa memahami makna maupun kondisi saat itu. Jangan sekedar melakukan kewajiban agama kita sesuai tradisi! Mari pahami maksud dan tujuan dari setiap tindakan kita dan lakukan dengan sepenuh hati. Karena, bila kita hanya melakukan kewajiban agama kita di hadapan orang hanya supaya dilihat mereka, maka tidak ada upah yang kita terima dari Bapa di surga. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s