Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Jebakan Cairan Manis

cairan manis“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia – sia.” (Pengkhotbah 5 : 9)

Kupu – kupu Maculinea Arion meletakkan telornya di tanaman. Beberapa hari kemudian, telor itu menetas menjadi ulat. Setelah makan daun beberapa hari, ulat itu turun ke tanah dan bertemu dengan semut. Semut – semut menyerang ulat itu dengan sungutnya. Untuk mempertahankan diri, ulat itu mengeluarkan cairan manis dari kelenjar khususnya yang terdapat pada tubuhnya.
Tampaknya semut menyukai cairan itu sehingga ia membawa ulat tersebut ke sarangnya. Disana, semut terus memakan cairan manis yang dikeluarkan oleh ulat itu, sedang sebaliknya ulat itu mulai memakan bayi – bayi semut. Semut mengizinkan ulat itu tinggal di sarang mereka selama musim dingin, karena mereka membutuhkan makanan pada musim dingin itu yaitu cairan manis yang dikeluarkan oleh ulat itu. Sementara itu, sang ulat terus memakan bayi – bayi semut sampai musim semi tiba. Akhirnya ketika musim semi datang, ulat itu menjadi kupu – kupu dan terbang pergi meninggalkan sarang semut yang telah kehilangan begitu banyak bayi semut.
Tragisnya, banyak orang di sekitar kita yang bersikap seperti semut itu. Ada begitu banyak orang menyukai “cairan manis” dari dunia ini berupa benda – benda mewah dan kesenangan duniawi : pakaian dan perhiasan yang bagus, mobil mewah, rumah yang luks, makanan di restoran bergengsi, dan hiburan yang eksklusif. Dan untuk mendapatkan segala kenikmatan itu, mereka rela mengorbankan apa saja, bahkan keluarga atau orang – orang yang mereka kasihi dan tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Istri Lot menikmati semua kenikmatan Sodom sampai – sampai ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Sekalipun sudah dilepaskan dari Sodom, hati dan pikirannya masih melekat padanya sehingga hidupnya berakhir dengan tragis : menjadi tiang garam atau garam yang sudah kehilangan rasa dan fungsinya. Demikianlah akhir hidup orang Kristen duniawi atau kedagingan.
Sobat Talenta, biarlah kita tidak mengorbankan apa yang benar – benar penting hanya untuk memperoleh apa yang penting. Mari memiliki prioritas hidup yang benar, supaya kita tidak sampai mengorbankan perasaan, kebersamaan dan kasih dari orang – orang yang kita cintai hanya demi menikmati “cairan manis” dari dunia ini yang sifatnya hanya sementara. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s