Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Fokus Saja Pada Yesus

visualisasi“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 3037 : 3)

Seorang dosen di sebuah universitas selalu merasa gelisah oleh kelemahan dan sikap buruk dari salah seorang petugas administrasi dari universitas tersebut. Dosen ini mempunyai hubungan yang kurang baik dengan petugas administrasi itu dan membiarkan dirinya memikirkan kelemahan pria tersebut siang dan malam. Pikiran tidak suka serta pikiran negatif begitu menguasai dosen ini sehingga hal tersebut bahkan telah mempengaruhi kualitas hubungannya dengan keluarganya, gerejanya serta koleganya. Hampir setiap hari dia tidak lagi merasakan adanya damai sejahtera dan sukacita dalam dirinya.
Akhirnya Dosen ini menyimpulkan bahwa apa yang perlu dilakukan adalah keluar dari pekerjaannya dan menerima tawaran mengajar di tempat lain, sehingga dia tidak lagi bertemu dengan petugas administrasi itu, dan dapat menikmati kehidupan yang lebih tenteram. Suatu hari, seorang rekannya bertanya, “Bukankah engkau lebih suka mengajar di universitas ini, jikalau si petugas administrasi itu tidak ada disini?”
“Pasti,” jawab sang dosen, “Namun selama dia masih ada disini, maka keberadaannya telah mengganggu segala aspek kehidupanku. Bahkan hampir setiap hari aku diliputi oleh perasaan benci. Maka dari itu, sebelum segala sesuatunya berjalan lebih buruk, aku harus pindah kerja.”
Rekannya bertanya kembali, “Mengapa kau jadikan petugas administrasi itu sebagai pusat kehidupanmu? Sobat, sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah dimana engkau bekerja, namun engkau telah salah dalam meletakkan pusat kehidupanmu, engkau terlalu fokus pada kelemahan satu orang tersebut, padahal di universitas ini, masih begitu banyak orang yang menyenangkan. Jadi ubahlah cara pandangmu, maka kehidupanmu yang buruk juga akan berubah.”
Dosen tersebut akhirnya mengakui bahwa dia telah mengizinkan satu individu berikut kelemahannya menjadi fokus utama dalam seluruh kehidupannya. Padahal kesalahan tidak terletak pada petugas administrasi itu. Kesalahan terletak pada dirinya sendiri. Sejak hari itu, dia mulai memusatkan perhatiannya pada siswa, rekan kerjanya yang lain dan pengajarannya, dan akhirnya dia menemukan sukacita baru dalam “tugasnya yang lama.”
Ya, setiap manusia tidak ada yang sempurna, dimanapun kita berada. Kita mungkin akan bertemu dengan orang – orang yang bersikap buruk, entah itu di tempat kerja, di lingkungan kita, bahkan di gereja. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita memilih fokus kehidupan kita. Jadi, mari belajar untuk memiliki fokus hidup yang benar, karena di saat kita memusatkan perhatian untuk berbagai kelemahan dan keburukan orang lain, biasanya yang hancur adalah diri kita sendiri. Namun saat kita memusatkan perhatian pada Yesus, maka damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memelihara kehidupan kita. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s