Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Jangan Melihat Dari Sampulnya

italian-cruise-ship-sinking“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel : “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (I Samuel 16 :7)

Suatu hari di sebuah sekolah, seorang guru bercerita tentang sepasang suami – isteri yang sedang berlayar menggunakan kapal laut. Hingga terjadi sebuah kecelakaan, dimana kapal yang mereka tumpangi akan tenggelam. Mereka pun berlari menuju sekoci. Namun sayang hanya tersisa 1 tempat di sekoci tersebut. Setelah saling berpandangan sejenak, sang suami langsung meloncat ke dalam sekoci. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal itu benar – benar menenggelamkannya. Kemudian guru tersebut bertanya pada murid – muridnya “Menurut kalian, apa yang mungkin istri itu teriakkan?”
Sebagian besar murid – murid itu menjawab, “Aku benci kamu!, “Kamu kejam!”, Kamu egois!”, “Nggak tau malu!” Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik – baik’. Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?” Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.” Kapal itu kemudian benar – benar tenggelam dan sang suami akhirnya merawat anak mereka sendirian. Bertahun – tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu – satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”
Sobat Talenta, banyak dari kita, awalnya akan menghakimi sang suami pada cerita di atas, seperti murid – murid yang lain, tanpa melihat ke akar permasalahannya. Dan itulah yang banyak terjadi dalam dunia ini. Kita seringkali menghakimi tanpa tahu apa – apa. Misalnya, orang yang meminta maaf terlebih dahulu, bukan berarti mereka salah tetapi karena mereka memiliki jiwa yang besar. Mereka yang menghina kita, belum tentu juga mereka membenci kita, namun mereka ingin menguji ketulusan cinta kita. Pekerja terlambat ke kantor belum tentu ia bangun kesiangan, namun mungkin ia baru saja menolong orang lain di jalan. Jadi marilah kita mengerti apa yang ada di sampul atau permukaan sebuah masalah, belum tentu itu yang sebenarnya terjadi. Jangan pernah menilai seseorang hanya karena tampilan luarnya, tetapi marilah kita belajar menilai orang karena isi hatinya. Karena kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, namun kadang banyak alasan atau akar di balik semua itu yang kadang sulit untuk kita mengerti dengan cepat. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s