Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Sikap Atau Keadaan?

Rumah“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amsal 23 : 7a)

Edmond, yang tinggal di Amerika, suatu kali pernah bersumpah, bahwa ia dan keluarganya tak akan pernah tidak memiliki rumah. Namun, tak berapa lama kemudian, ia kehilangan pekerjaannya, lalu api memusnahkan rumah mereka. Tiba – tiba saja, mereka menjadi tunawisma. Satu – satunya pilihan mereka adalah rumah penampungan yang disediakan oleh pemerintah Amerika. Untuk sementara waktu, karena tidak ada pilihan lain, mereka akhirnya bergabung dengan para tunawisma di sebuah rumah penampungan. Pada akhir hari pertama di sana, Edmond berdoa dengan nada kesal “Tuhan, keluarkan aku dari sini,” Sikapnya amat sangat negative. Menurut pendapatnya, aturan – aturan yang diterapkan rumah penampungan itu sangat mempermalukan dirinya. Para penghuni harus dikawal saat menyeberangi jalan ke aula untuk makan bersama. Mereka diharuskan datang ke gereja yang membantu menyokong rumah penampungan itu. Bila ada penghuni rumah penampungan itu yang memperoleh pekerjaan, mereka diharap memasukkan 70% gaji mereka ke dalam sebuah dana tabungan sampai pada hari mereka dapat keluar dari rumah penampungan itu.

Suatu hari, setelah menumpahkan semua uneg – unegnya kepada direktur rumah penampungan itu. Edmond tidak dapat tidur malam harinya. Ia mulai menyadari bahwa ia hanya memusatkan semua perhatiannya pada bagaimana caranya keluar dari rumah penampungan itu, bukan pada apa yang dapat dilakukannya untuk membuat hal – hal menjadi lebih mudah bagi keluarganya, selama mereka tinggal di rumah penampungan itu. Dengan kata lain, Edmond tidak bisa lagi menikmati hidupnya, karena hidupnya terus terpusat pada angan – angan untuk segera keluar dari rumah penampungan itu, tanpa mau menikmati dan mengucap syukur dalam setiap proses yang dia lalui hari demi hari. Malam itu, setelah menyadari semuanya ia mengambil keputusan untuk mengubah sikapnya. Ia mulai dengan hal – hal kecil seperti mengambilkan segelas air untuk seorang pria yang terbatuk – batuk di kamar sebelahnya. Sejak saat itu ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak lagi hanya terpusat pada keinginannya untuk segera memiliki rumah sendiri dan keluar dari tempat itu, namun Edmond juga mulai memikirkan keadaan orang – orang yang membutuhkan pertolongan di sekitarnya, dan menjalani hari demi hari dengan ucapan syukur dan penuh semangat. Sembilan bulan kemudian, Edmond dan keluarganya akhirnya memiliki rumah lagi. Namun kini Edmond menjadi lebih dewasa dalam hidup, ia tidak akan pernah melupakan apa yang telah dipelajarinya dari kejadian itu. Sesekali ia masih datang mengunjungi rumah penampungan itu untuk memberi penghiburan dan pengharapan bagi orang – orang yang tinggal disana. Ia berkata, “Di manapun anda berada. Tuhan juga ada di sana.”

Ya, dalam kehidupan ini, sikaplah yang membuat perbedaan nyata, bukan keadaan. Mungkin kita memiliki berbagai tujuan dan target dalam hidup ini, namun jangan sampai pikiran kita hanya terpusat pada tujuan atau target kita sehingga kita menjadi frustasi ketika melihat keadaan kita sekarang dan lupa mengucap syukur. Mari memiliki tujuan hidup yang besar. Namun jangan lupa untuk menikmati setiap proses dalam pencapaian tujuan kita. Karena kebahagiaan tidak ditentukan oleh keadaan yang kita alami, namun lebih ditentukan oleh sikap kita dalam menghadapi setiap keadaan. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s