Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Salah Sangka

anjing dan belalang“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mazmur 37 : 8)

Suatu hari di sebuah desa tinggallah sebuah keluarga petani dengan anjing kesayangannya. Anjing itu sangat setia dan banyak membantu keluarga petani tersebut. Suatu hari petani tersebut harus meninggalkan desa untuk ke kota guna menjual hasil panennya. Namun kebingungan melandanya. Sesaat dia berpikir keras, harus dititipkan kepada siapakah anaknya yang masih bayi. Setelah lama berpikir dan tidak menemukan tempat penitipan yang tepat, akhirnya dengan berat hati petani tersebut meninggalkan anaknya yang masih bayi untuk dijaga oleh anjing kesayangannya. Menjelang malam tiba, petani ini pulang dan anjing kesayangannya menyambut dia. Namun sungguh aneh, anjing ini terus mengonggong dengan keras dan berputar – putar di sekitar petani. Setelah diamati mulutnya penuh dengan darah. Kontan saja, si petani langsung curiga terhadap anak bayinya, jangan – jangan…

Tanpa berpikir panjang, si petani pun langsung marah dan memukul anjing tersebut. “Sudah kau apakan anakku?? Apa kau memukulnya? Dasar anjing sialan!” Anjing itu pun terdiam sejenak dan tepat pada saat itu tongkat pemukul si petani mengenai kepala anjing tersebut dan anjing itu langsung mati seketika. Dengan segera si petani masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di kamar, mereka melihat anak mereka yang masih bayi tampak tertidur lelap di ayunan dengan damai dan di sekitarnya terdapat ular yang sangat besar yang sudah mati akibat bekas gigitan. Mereka pun segera sadar bahwa anjing tersebut yang sudah menyelamatkan anak mereka dengan bergulat melawan ular besar itu dan berhasil menggigitnya sampai ular itu mati. Rupanya ceceran darah yang ada di mulut anjing, bukanlah darah dari bayi mereka, melainkan adalah sisa darah dari ular besar tersebut. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Amarah yang ditimbulkan akibat kecurigaan yang tidak pada tempatnya, sudah membuat semuanya fatal dan tak bisa terulang kembali. Kini tinggallah penyesalan yang ada di hati mereka, karena anjing mereka yang begitu pintar dan setia itu kini telah mati akibat ulah mereka sendiri.

Sobat Talenta, kehidupan kita seringkali seperti cerita di atas. Penuh dengan kecurigaan dan prasangka buruk terhadap orang lain ataupun terhadap suatu kejadian tanpa kita tahu apa kejadian yang sebenarnya. Bahkan kecurigaan tersebut menjadi sebuah amarah, kebencian dan perkelahian. Inilah yang seringkali menjadi penyebab dari berbagai macam perpecahan, baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja, lingkungan sekolah, kampus atau bahkan di ladang pelayanan. Ada baiknya kita tidak berpikir negatif terhadap suatu situasi, sebelum tahu kebenaran dan fakta yang sesungguhnya. Karena tidak menutup kemungkinan hal itu akan merugikan diri kita sendiri. Jadi jangan biarkan amarah dan rasa curiga yang tidak pada tempatnya menguasai kehidupan kita, karena itu awal dari perpecahan yang merupakan strategi musuh untuk membuat banyak anak Tuhan menjadi lemah dan tak berdaya. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s