Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Dampak Sebuah Ujian

mountain“Biarlah bibirku mengucapkan puji – pujian, sebab Engkau mengajarkan ketetapan – ketetapan-Mu kepadaku” (Mazmur 119 : 171)

Mark adalah seorang guru yang baik di sekolahnya, murid – muridnya juga sangat dekat dengannya. Suatu hari menjelang kelulusan, Mark mengambil waktu untuk meminta semua muridnya menulis daftar positif tentang teman – temannya satu kelas. Setelah selesai, semua dikumpulkan dan Mark membuat kembali daftar itu sesuai dengan nama masing – masing siswa. Keesokan harinya Mark mengembalikan kepada murid – muridnya. Tak lama setelah itu, kelas menjadi sedikit riuh, karena beberapa murid tidak menyangka bahwa ia begitu berarti untuk teman – temannya. Bahkan beberapa orang berkata, “Benarkah aku sangat berarti untuk orang lain di kelas ini?” Dan lainnya menimpali, “Oh…berarti selama ini saya salah, ia sangat menyukaiku bukannya tak suka padaku.” Hari demi hari tak ada lagi yang menyinggung tentang kertas itu lagi, hingga waktu kelulusan tiba dan semua murid di kelas itu lulus. Suatu hari, Mark mendengar kabar bahwa muridnya yang menjadi tentara tewas dan ia bermaksud menghadiri pemakamannya, dan ternyata ia menjumpai banyak mantan muridnya yang sudah tumbuh menjadi orang – orang yang hebat. Saat upacara pemakaman selesai, mereka pergi ke tempat untuk makan siang. Ayah tim, begitulah nama murid yang tewas itu, menghampiri Mark, dan berkata, “Apakah engkau guru Tim yang bernama Mark itu?” Dan sang guru mengangguk, “Kalau begitu tunggu sebentar,” kata ayah Tim melanjutkan, “Anda pasti mengenal ini?” Ayahnya pun mengeluarkan sebuah kertas lusuh yang sudah diisolasi kiri kanan. Dan tentu saja Mark mengenalinya itu adalah kertas yang berisikan daftar kebaikan Tim selama disekolah yang telah ditulis oleh teman – temannya. Dan ayahnya melanjutkan bercerita, “Dulu Tim adalah anak yang kurang percaya diri, tetapi setelah ia mengetahui bahwa ia berarti buat orang lain, ia menjadi lebih percaya diri. Terima kasih telah mengubah Tim menjadi seorang pemuda yang lebih baik.” Melihat itu semua teman – teman sekelas Tim muncul dan mengeluarkan kertas mereka satu persatu. Mark yang melihat itu menangis dan terharu melihat murid – muridnya yang kini telah tumbuh dewasa.

Harga sebuah pujian dan persahabatan ternyata sangat mahal. Hanya karena pujian seseorang bisa berubah menjadi lebih baik. Karena sebuah pujian, persahabatan dan persaudaraan terjalin. Demikian juga sebaliknya. Jika kita pernah mendengar sebuah kisah jawa kuno tentang Mahabarata, kita juga melihat sebaliknya, hanya karena sebuah ejekan, maka timbul permusuhan dan pertengkaran. Sobat Talenta, sebagai pembawa terang, mari mulai membiasakan diri memuji orang lain dan bukan mencelanya. Orang tua memuji anaknya, anak memuji orang tuanya. Pemimpin memuji karyawannya dan sebaliknya. Karena tak ada seorang pun yang tak ingin dipuji bukan? Termasuk Tuhan kita. Jadi sudah siapkah kita memberikan pujian kepada orang lain dan Tuhan? Mari memberikan pujian yang tulus, karena satu kata pujian jauh lebih berarti dari sejuta kata kritikan. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s