Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Yang Sementara VS Yang Kekal

last chance“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6 : 19)

Ada seorang anak kecil, yang setiap harinya hidup bersama dengan asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga itu. Sebut saja nama anak itu, Rani.
Ayah dan ibu Rani adalah orang tua yang sibuk untuk bekerja sehingga kurang memperhatikan sang buah hati.

Suatu hari, sang Ayah membeli sebuah mobil baru, ia sangat mengasihi mobil itu. Setiap pulang kerja ia selalu mencuci dan memolesnya. Hingga suatu hari, ketika si anak di rumah sendiri melihat mobil itu, ia berpikir akan memberi kejutan kepada sang ayah dengan menggambar di body mobil itu, sambil berharap ayahnya akan senang dengan gambarnya yang dia pikir akan membuat mobil baru ayahnya tampak semakin bagus dalam pemandangannya. Dan benar saja si anak melakukan perbuatannya itu.

Sepulang kerja, ayahnya melihat mobilnya sudah penuh dengan coretan, kontan saja sang ayah langsung berteriak marah. Dan setelah mengetahui bahwa itu perbuatan anaknya, ia segera mengambil tongkat pemukul dan memukul tangan anaknya hingga berdarah. Asisten rumah tangga mereka, hanya melihat tanpa berani berbuat apa – apa. Demikian juga sang ibu yang seolah – olah sengaja membiarkan perbuatan sang ayah. Anak ini terus meronta kesakitan dan meminta maaf. Namun dengan kalapnya, sang ayah tidak menggubris permohonan anaknya dan terus mengayunkan pukulan dengan sekuat tenaga pada tangan anaknya yang mungil itu. Setelah kejadian itu, sang ayah dan ibu masih tidak mau berbicara dengan si anak. Sehingga, si anak hanya dirawat oleh asisten rumah tangga mereka.

Dua hari setelah itu si anak mengalami demam dan luka yang ditimbulkan akibat pukulan itu yang membuat tangan mungil anaknya membengkak. Akhirnya, si asisten rumah tangga memberanikan diri untuk meminta membawa si anak ke klinik, dan benar saja sampai di klinik hal terburuk terjadi. Luka yang dialami si anak sudah begitu parah sehingga menyebabkan infeksi dan tangan si anak mungil ini harus segera diamputasi untuk mencegah penyakit yang lebih parah.

Kini, mendengar hal itu, ganti sang ayah yang menangis meraung – raung menyesali perbuatannya terhadap anaknya. Namun semuanya sudah terlambat. Andai saja dia bisa mengendalikan emosi, andai saja dia bisa lebih menghargai anaknya dibanding harta benda, andai saja…andai saja…dan andai saja…namun semuanya sudah terlambat.

Sobat Talenta, harta memang seringkali membuat kita gelap mata. Mengasihi harta dapat merusak semuanya. Merusak keluarga kita sendiri, merusak hidup kita sendiri, bahkan merusak sekeliling kita. Karena harta, orang dapat berbuat nekat. Karena harta, kakak dan adik bermusuhan. Karena harta, si anak bisa membunuh orang tuanya. Jadi, jangan pernah menganggap harta adalah satu – satunya jalan untuk meraih kebahagiaan atau lain sebagainya. Jangan sampai penyesalan ada dalam hidup kita, karena kita terlalu mencintai harta, dibandingkan orang – orang yang kita kasihi. Karena semua harta benda yang kita kumpulkan di dunia ini bersifat sementara dan akan lenyap tanpa bekas, namun kasih kita akan dikenang sepanjang masa. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s