Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Bakmi Panas

gerobak mie“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103 : 2)

Seorang gadis keluar rumah dengan tergesa – gesa. Ia baru bertengkar dengan ibunya dan memutuskan untuk tidak tidur di rumahnya malam itu. Karena emosional dan terburu – buru, ia lupa tidak membawa sepeser uang pun. Ia kemudian menyeberangi jalan dan masuk ke salah satu gang di ujung jalan. Seorang penjual bakmi mempersilahkannya duduk karena melihat ia seperti kebingungan. Gadis itu duduk untuk melepas penatnya sambil berpikir akan kemana ia pergi. Ibu penjual bakmi menawarkan bakmi kepada sang gadis. Karena tidak membawa uang, ia menggelengkan kepala pelan, tetapi sempat juga terucap, “Saya sebenarnya lapar, tetapi dompet saya ketinggalan.”

Si ibu dengan ramah menjawabnya, “Tidak apa – apa, Neng. Ibu tahu Neng terlihat lelah dan lapar. Ibu buatkan bakmi ya? Tidak usah dibayar, tidak apa – apa.” Ketika si gadis masih merenung, bakmi panas telah terhidang di hadapannya. Dengan lahap ia menyantap bakmi panas itu, sampai habis tanpa sisa. Dengan terisak – isak, ia berkata, “Saya terharu. Ibu yang baru kenal saja rela memberi saya semangkuk bakmi, tetapi ibu kandungku malah membentak dan menyuruhku pergi saat bertengkar.” Ibu penjual bakmi memandang wajah gadis itu, “Neng, jangan berpikir seperti itu. Jika untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru dikenal saja, Neng merasa sangat berterima kasih, kenapa Neng tidak lebih berterimakasih lagi kepada ibu Neng yang lebih dari 20 tahun telah memberikan bermangkuk – mangkuk bakmi serta memberikan seluruh kasih sayangnya tanpa pamrih ke Neng?” Sang gadis terhenyak, sementara si Ibu penjual bakmi meneruskan nasihatnya, “Sekarang, Neng cepat pulang saja. Ibu Neng pasti menunggu di rumah.” Si gadis mulai berpikir, “Mengapa aku tidak berpikir seperti itu terhadap ibuku yang mengasihiku hingga aku bisa hidup sampai saat ini?” Akhirnya, setelah berterimakasih kepada si Ibu penjual bakmi, gadis itu pulang dan meminta maaf kepada ibu kandungnya.

Sobat Talenta, seringkali kita lupa berterimakasih kepada orang – orang terdekat kita, akibat kasih sayang yang kita terima sudah merupakan rutinitas dan kebiasaan sehari – hari. Seringkali kita lebih mudah mengagumi dan begitu berterima kasih kepada orang yang baru kita kenal, kepada teman – teman kita, yang mungkin baru sekali atau beberapa kali saja memberi pertolongan, sementara dengan mudahnya kita melupakan kebaikan dan kasih sayang dari orang – orang terdekat kita, yang mungkin setiap hari kita terima. Dan yang lebih parah lagi, kita dengan mudahnya melupakan kebaikan Tuhan Yesus karena mungkin terlalu banyak kebaikan yang sudah kita terima sehingga kita menganggap semua kebaikan itu sebagai hal yang sudah biasa. Contoh yang paling mudah, kita lupa berterimakasih kepada Tuhan atas udara yang bisa kita hirup dengan bebas dan dengan gratis, tanpa menyadari bahwa itu sebuah anugerah yang tak ternilai, sementara di rumah sakit kita bisa melihat sebagian orang yang harus berjuang bahkan mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk bisa menghirup udara yang segar ini.

Jadi, jangan pernah melupakan dan menganggap biasa suatu kasih sayang atau kebaikan dari orang – orang terdekat kita, terlebih lagi dari Tuhan, karena disitulah titik awal untuk kita bisa selalu mengucap syukur. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s