Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Praduga

Praduga“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin” (Amsal 17 : 27)

Seorang petani menemukan sebuah benda ketika mencangkul di ladang. Gambar pada benda tipis seukuran dua kali kotak korek api itu sangat menarik perhatiannya. Dalam hati ia berpikir, “Ini adalah gambar ayah waktu masih muda.” Sewaktu pulang, ia masih penasaran. Bahkan, selama dua hari terakhir, ia sering bangun di tengah malam dan memandangi gambar di benda tersebut. Melihat perubahan prilakunya akhir – akhir ini, istrinya kemudian mengintip suaminya yang sedang memandangi sebuah benda. Ketika si suami pergi ke ladang, istrinya mengambil benda itu dari dalam lemari. Kontan ia menjadi marah karena yang dilihatnya adalah gambar wanita.” Ia mulai main serong,” pikirnya dalam hati. Sambil menangis si istri mengadu ke kakak kandungnya, seorang pedagang. Kakaknya berkata sambil setengah marah dan setengah tertawa, “Mengapa harus cemburu? Ini kan gambar kakak nomor satu yang ada di kota Xian.”

Ibu mereka kemudian mendekat, dan melihat gambar pada benda itu. “Apa yang harus diributkan? Ini kan gambar nenekmu yang ada di desa.” Ia melanjutkan sambil berusaha menenangkan mereka, “Memang mulai kelihatan agak tua, tetapi masih ada bekas – bekas kecantikannya.” Setiap orang secara bergantian mengambil barang itu dan mempertahankan argumen masing – masing setelah melihat gambarnya. Saat ketegangan memuncak, si suami dipanggil dari ladang dan mereka sepakat membawa kasus itu ke kepala desa yang dianggap sebagai orang bijak. Kepala desa mengamati sejenak. Semua yang datang menjadi tegang. Setiap detik adalah penantian panjang. Tiba – tiba, kepala desa tertawa terkekeh – kekeh. Para tamu semakin tegang. Kepala desa semakin terpingkal sambil memegangi perutnya. “Kalian semua tidak ada yang salah,” katanya. Semua hadirin mulai tersenyum, tetapi kemudian tegang lagi. “Tetapi, tidak ada yang benar!” Lanjutnya. Kini, semua wajah menjadi memerah, tetapi kemudian beberapa mulai ikut tertawa kecil. Sambil tersenyum dan mengelus janggut putihnya, si kepala desa berkata, “Ini yang disebut cermin! Siapa pun yang melihatnya, akan melihat wajahnya sendiri.” Mereka saling memandang, awalnya tidak tahu apa yang harus diperbuat. Kemudian, mereka tertawa terbahak – bahak. Benda itu dipinjam dan dilihat lagi secara bergantian, setiap orang yang melihat terus terpingkal, sambil sedikit bergaya dan merapikan rambutnya. Hari itu tidak ada lagi dendam, curiga, dan sakit hati. Mereka sangat berbahagia sejak saat itu.

Sobat Talenta, sebuah hubungan bisa terganggu dan bahkan bisa hancur berantakan hanya gara – gara salah sangka. Sebuah hubungan juga bisa terancam akibat masing – masing mempertahankan argumennya sendiri. Jika setiap pihak mengambil sikap menurut perasaan hatinya, yang terjadi adalah pertengkaran, bahkan permusuhan. Komunikasi di tempat kerja, di ladang pelayanan bahkan di dalam keluargapun sering mengalami distorsi, misalnya salah pengertian, salah paham, salah persepsi, dan terlalu cepat emosi, akibat tidak adanya keterbukaan dan saling pengertian. Jika itu tidak terbendung, akan timbul tindakan saling menyalahkan, saling curiga, dendam, tidak terima, dan salah menilai. Marilah setiap kita belajar untuk menjadi orang yang arif dan bijaksana dan menjadi juru damai di tengah pertikaian. Jadi, jangan bertindak dan memutuskan sesuatu sebelum kita tahu masalah yang sebenarnya dan kebenaran yang sesungguhnya. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s