Posted in Kotbah GBI ROCK Tampa, Rohani

Paradox of The Kingdom of God

Ps. Yosi Here

rockApapun yang anda sembah membentuk pembentukan kehidupan kita. Ketika kita mengikut uang, maka kita akan menjadi hamba uang. Dan ketika kita mengikut Tuhan, maka kita akan menjadi serupa dengan Tuhan. Mana yang anda pilih?

Hari ini kita akan belajar mengenai pola pikir kerajaan Allah dengan pola pikir yang terbalik. Kadangkala kita melihat sesuatu yang tidak logis dalam mengikuti pola pikir kerajaan Allah, seperti mengampuni orang yang telah berbuat salah kepada kita, dsb. Memiliki pola pikir kerajaan Allah akan membuat kita mengetahui apa rencana Tuhan di dalam kehidupan kita. Ada tiga paradoks dalam Kerajaan Allah:

  1. We Find By Losing (Menemukan Lewat Kehilangan)

Mat 10:39, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Setiap kita yang memiliki pola pikir kerajaan Allah, janganlah takut kehilangan. Sebab apa yang ada di dalam diri kita, hal itu dipecayakan oleh Tuhan.

Setiap orang yang mencari adalah orang yang pernah mengalami kehilangan dalam hidupnya. Artinya tak ada satupun orang yang mencari karena tidak merasa kehilangan. Dalam kitab Lukas, kita banyak melihat perumpamaan tentang “yang hilang”, seperti perumpamaan tentang domba yan hilang (Luk 15:1-7), perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10), dan perumpaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Tuhan ingin agar kita mengoreksi diri kita mengenai apa yang telah hilang dalam kehidupan kita.

Coba anda bayangkan! Ketika anda menemukan sesuatu yang hilang dan itu berharga bagi anda, maka anda akan lebih menghargai sebelum anda merasa kehilangan, bukan? Demikian juga di dalam kehidupan kita yang telah jauh dan undur di dalam Tuhan. Ketika kita kembali kepadaNya, rasa kekosongan di dalam diri anda akan terpenuhi kembali. Sukacita, ucapan syukur, dan pujian akan keluar dari mulut anda.

  1. We are Exalted by Being Humble (Ditinggikan Lewat Direndahkan)

Mat 23:12, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Ada sebuah ilustrasi mengenai angka 1-9 dan angka 0 yang membanggakan dirinya sendiri. Angka 1 merasa dirinya lebih hebat karena dia menjadi yang utama. Angka 2 menganggap dirinya adalah Victory (jika kita mengangkat jari telunjuk dan jari tengah, maka akan membentuk huruf “V” dan membentuk angka dua).

Angka 3 merasa dirinya paling rohani dan hebat karena melambangkan Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Angka 4 bangga karena merasa dirinya hebat dengan adanya empat penjuru mata angin (utara, timur, selatan, dan barat).

Angka 5 merasa dirinya paling hebat karena sebuah jari akan terbentuk sempurna ketika lima jari ada di tangan kita. Angka 6 merasa hebat karena Tuhan menciptakan manusia di hari yang keenam.

Angka 7 pun tidak mau kalah bahwa hari yang ketujuh adalah hari yang sempurna. Demikian juga untuk angka 8 merasa paling hebat karena jumlah penjuru mata angin adalah delapan (secara lengkap), bukan hanya empat. Sedangkan angka 9 menganggap dirinya paling hebat karena dia adalah angka terbesar dari 1-9.

Namun berbeda halnya dengan angka 0. Dengan semangat yang lemas, dia mengakui bahwa kesemua angka memiliki kehebatan masing-masing. Namun angka 0 mengatakan apabila angka 0 menempel pada salah satu angka yang lain, maka angka itu akan bernilai lebih besar. Sama halnya dengan kehidupan kita. Apabila kita melekat dengan Yesus, maka kita akan menjadi lebih besar.

  1. Our Weakness is our Strength (Kelemahan Kita Adalah Kekuatan Kita)

2 Kor 12:10, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Kita harus siap ketika permasalahan datang di dalam kehidupan kita. Hal ini akan melatih kita untuk semakin dekat dengan Tuhan. Kita harus menyadari bahwa kekuatan kita hanyalah sebatas manusia biasa. Tapi bersama Tuhan, kita akan menjadi semakin kuat.

Tiga paradoks di atas mengajarkan kita untuk memiliki ketergantungan kepada Tuhan, hidup melekat kepadaNya, dan menyerahkan kehidupan kita sepenuhNya. Karena bersama Dia, tidak ada yang mustahil. Bagaimana menurut anda?

Sumber : Ringkasan kotbah Minggu (6 September 2015) di GBI R.O.C.K Tampa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s