Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Cinta = Komitmen

Love“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai – sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina” (Kidung Agung 8 : 7)

Robertson McQuilkan adalah seorang rektor di sebuah sekolah Alkitab. Rumah tangganya merupakan sebuah keluarga yang harmonis, karena Robertson selalu bertekad untuk menepati komitmen yang telah diucapkannya pada hari pernikahan mereka.

Suatu hari, komitmennya benar – benar diuji ketika istrinya, yang bernama Muriel, terkena penyakit Alzheimers, yaitu sebuah penyakit yang ditandai oleh merosotnya kapasitas mental akibat kemunduran sel – sel otak. Kini istrinya, hanya bisa mengucapkan beberapa kata dengan terbata – bata. Ia juga mempunyai perasaan yang sensitif atau ketakutan yang tidak wajar bila suaminya tidak berada di sampingnya.

Meskipun usianya tidaklah terlalu tua, yaitu 57 tahun, namun Robertson mengambil keputusan untuk pensiun lebih awal dengan tujuan supaya ia dapat merawat istrinya dengan lebih baik. Ketika istrinya dan orang – orang mulai mempertanyakan keputusannya itu, Robertson McQuilkan hanya berkata dengan mantap, “Bukankah 42 tahun yang lalu, di hadapan Tuhan, dan di hadapan Pendeta yang memberkati pernikahan kita, aku telah berjanji…bahwa aku akan mengasihi engkau dan menjaga engkau baik dalam keadaan sakit maupun sehat, baik dalam keadaan suka maupun duka….sampai kematian akhirnya memisahkan kita.”

Selanjutnya, dalam sebuah buku yang dia buat, Robertson McQuilkan berkata, bahwa, segera setelah ia mengambil keputusan itu dan merawat serta mendampingi istrinya, hidupnya selalu dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Sobat Talenta, bagaimana dengan kita? Mampukah kita menjaga dan menepati setiap komitmen yang dulu pernah kita buat disaat kita memulai sebuah rumah tangga? Masihkah kita mengingat setiap kalimat, setiap kata, yang dulu pernah kita ucapkan di hadapan Tuhan, dan dihadapan Pendeta, atau pastor yang memberkati kita?

Atau apakah saat ini kita mulai lupa akan setiap kalimat tersebut? Mari kita merenung sejenak, bahkan bila perlu, mari kita ucapkan kembali komitmen di hari pemberkatan pernikahan kita dan bertekad untuk menjaga dan menepatinya. Karena sebuah cinta yang abadi membutuhkan komitmen kita untuk selalu menjaga dan merawatnya melalui sikap dan tindakan kita. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s