Posted in Kotbah GBI ROCK Tampa, Rohani

Hikmat dari Menjaga Kemurnian Hati

Ps. Yosi Here

rockKis 15:24:16, “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Paulus sangat mengerti bagaimana menjaga kemurnian hati. Hati yang murni dapat menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebaliknya, hati yang keras akan membuat kita menganggap diri kita merasa benar dan keras kepala sehingga tidak mau dinasehati.

Pembentukan hati nurani adalah proses agar kita dapat mengetahui hadirat Tuhan di dalam kehidupan kita.. Alkitab mengajarkan banyak hal dari beberapa tokoh. Daud yang harus menjaga hatinya ketika masalah dan pergumulan datang. Perbahan nama Saulus menjadi Paulus yang mengakibatkan kehidupannnya berubah total. Hal ini juga lah yang membuat Paulus mengatakan bahwa “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Fil 1: 21)

Hati nurani ibarat GPS yang menuntun jalan hidup kita. Ketika kita mempunyai hati yang murni, kita akan mengetahui apa yang diinginkan Tuhan dalam kehidupan kita. Ada tiga hal yang menyebabkan hati nurani tumpul:

  1. Membenarkan Diri Sendiri

Orang yang tidak memiliki hati nurani akan akan menganggap dirinya benar dan akan menjadi orang yang bebal. Dalam 1 Tim 1:19, “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Ketumpulan hati nurani menjadikan sebuah kesalahan menjadi sebuah kebenaran.

  1. Mengabaikan Suara Hati Nurani

1 Pet 3:21, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — oleh kebangkitan Yesus Kristus,” Ibarat mobil yang memberikan peringatan ketika seseorang tidak menggunakan sabuk pengaman, seperti itulah hati nurani. Hati nurani akan memberikan peringatan ketika kita sedang mengalami pergumulan. Terkadang kita mendengar dalam diri kita, “jangan lupa untuk doa, jangan lupa untuk puasa, hati-hati melakukan ini dan itu, dsb”. Tapi terkadang kita mengabaikan hati nurani. Atau malah kita sering menunda-nunda. Hal inilah yang membuat hati nurani menjadi tumpul dan kita tidak mendengarkan kembali hati nurani itu.

  1. Hidup dalam Kepura-Puraan (Kemunafikan)

Ro 9:1, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — oleh kebangkitan Yesus Kristus,” Jika kita berbicara dan di dalam hati nurani kita ada Roh Kudus, maka Roh itu yang berbicara dalam diri kita. Sebaliknya jika Roh Kudus tidak hidup di dalam kita, maka kita akan dikuasai suara hati kita sendiri atau bisikan dari setan. Seperti Yesus ketika Dia mendapatkan pencobaan di padang gurun (Mat 4). Selama Dia berpuasa, Yesus menjaga hatinya  sehingga hati nuraniNya terbentuk.

 

Ada tiga hal bagaimana kita bisa menjaga hati nurani kita:

  1. Belajar dari Tuhan Yesus

Mat 11:29, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Belajarlah untuk menyalibkan diri kita sendiri. Ketika kita mau belajar dari Yesus, kita akan menerima segala bentuk ujian dan tekanan di dalam hidup kita. Hal inilah yang akan membentuk hati nurani kita.

  1. Terima Nasehat dan Teguran

Banyak orang tidak mau menerima nasehat karena mereka merasa betul dan tidak merasa bersalah. Padahal di dalam 1 Tim 1:5 dikatakan “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kalau teguran itu datang dari Tuhan melalui teman, kelurga, atau orang terdekat kita, kita harus belajar ‘tuk mendengar. Layaknya seorang petinju yang memenangkan pertandingan. Si petinju butuh melatih dirinya untuk menghadapi musuh yang lebih hebat lagi agar dia bisa memenangkan pertandingan kembali.

Ketika kita menemui peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan di dalam kita, kita akan menjadi lebh dari pemenang. Itu semua akn membentuk otot-otot iman kita. Hal inilah yang membuat gereja kuat ketika ada tantangan dalam kehidupan kita.

  1. Tidak Mencari Keuntungan dari Firman

2 Kor 2:17, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari Firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” Memilah Firman hanya untuk keuntungan diri sendiri sangatlah berbahaya. Kita harus menyelidiki hati kita dan bertanya, “Apakah ada Firman yang turun dalam hidupku dan aku tidak mau menghidupiNya?” Karena jika tidak melakukan Firman Tuhan, ini akan menjadi penghalang untuk membentuk hati nurani kita.

Belajarlah ‘tuk menghidupi Firman agar kita bisa menyelesaikan pertandingan yang sedang kita alami. Hal inilah yang akan membuat kita menjadi pemenang. Tekanan, himpitan, dan masalah akan membuat kita semakin tegar. Jadi maukah anda memiliki hati yang murni di dalam Tuhan?

Sumber : Ringkasan kotbah Minggu (31 Mei 2015) di GBI R.O.C.K Tampa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s