Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Belajar tentang Mengendalikan Emosi dari Surat Cinta

emotions“Terhormatilah seseorang, jika ia menjauhi pembantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak” (Amsal 20 : 3)

Seorang pemuda tampak gelisah. Dia sedang menantikan saat yang baik untuk memberikan surat cinta, yang sudah dipersiapkan di saku celananya, untuk gadis yang diam-diam disukainya.

Suatu sore, datanglah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Di keremangan senja, dia melihat si gadis sedang sendiri. Lalu dengan terburu-buru, diberikanlah surat yang telah lama disiapkan dari saku celananya. Kemudian dia sesegera mungkin berlari menjauh karena malu. Dan keesokan harinya, si pemuda mendapat telepon dari si gadis yang memintanya bertemu di suatu tempat. Saat pertemuan yang mendebarkan bagi pemuda itu, si gadis lalu berkata, “Hai teman. Saya tidak mengerti, kemarin kenapa kamu memberi uang kepada saya dan pergi begitu saja?” Sambil mengangsurkan uang yang kemarin diberikan kepadanya. Ternyata Pikiran yang tidak fokus, menyebabkan terjadinya kesalahan fatal. Maunya memberikan surat, malah merogoh uang.

Bukannya seringkali kita menemukan, bagaimana emosi memberi dampak yang tidak pernah kita inginkan. Tidak sedikit emosi yang meninggalkan efek destruktif. Andaikan saja kita bisa memahami makhluk apa sesungguhnya emosi itu, tentu kita bisa menjadi lebih bijaksana.

Emosi bisa jadi merupakan reaksi atas berbagai kejadian yang berlaku dalam kehidupan kita. Emosi juga dapat menentukan bagaimana sebuah kejadian dipahami dan disikapi. Sebuah emosi biasanya berangkat dari prasangka dan stereotip seseorang. Emosi merupakan bagian dari perasaan kita. Bila tidak dikendalikan, emosi bisa membatasi persepsi kita.

Sobat Talenta, kisah di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup ini, sudah seyogyanya kita mengendalikan emosi dan bukan dikendalikan oleh emosi. Sebab bila emosi dibiarkan masuk dalam logika maka akan jadi berbahaya. Persepsi kita bisa menjadi selektif. Membuat kita hanya melihat apa yang sesuai dengan perasaan kita. Ada orang, agaknya dengan sedikit bangga berkata bahwa “Memang aku mudah emosi dengan marah, tapi aku segera melupakannya.” Ternyata mereka dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan sendiri luka hatinya. Tidaklah heran, meski amarahnya meledak-ledak tidak terkendali, hanya dalam hitungan detik mereka sudah berbaikan lagi; bersendau gurau seolah tidak terjadi sesuatu apapun. Betapa sebuah anugerah yang tidak ternilai. Seorang konselor pernah berujar, “Bukankah demikian pula ketika bom atom dijatuhkan? Diperlukan beberapa menit saja untuk lari dari area peledakan. Namun, lihatlah kerusakan yang terjadi. Rasanya seabad pun tidaklah cukup untuk menyembuhkan kerusakan yang terjadi.” Dalam sisi negatif, Amarah menimbulkan dua luka; di hati si empunya dan lebih dalam lagi di hati si korban. Mungkin mudah mengobati luka hati sendiri, tetapi…, apakah kita bisa menjamin kesembuhan luka hati orang lain? “Anugerah” yang lebih bercahaya adalah bila kita mampu mengendalikan emosi, sehingga tidak menyebabkan luka di hati orang lain. Karena itu marilah kita menjaga perilaku kita dengan lebih banyak membaca Alkitab dan merenungkannya lalu melakukannya. Jadi, marahlah dengan kasih bukan dengan emosi. Menegurlah karena kasih bukan karena benci. Pedulilah supaya orang lain dapat merasakan arti kasih, bukan supaya kita dipuji. Berilah pengampunan karena kasih Allah yang tinggal di dalam hati bukan sekedar perasaan pribadi. Dan lakukanlah segala sesuatu dengan kasih Allah karena kasihNya sejati, tidak pernah gagal, dan tahan uji. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s