Posted in Motivasi, Renungan, Rohani

Menjadi Orang Seperti Apakah Kita?

mainan“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
(Roma 12 : 2)

Seorang guru memperlihatkan tiga mainan berbentuk orang kepada murid-muridnya dan meminta mereka mencari perbedaan dari ketiganya. Sekilas ketiga mainan itu tampak sama. Bentuk, ukuran, dan bahan materinya mirip. Namun setelah diamat-amati, akhirnya para murid-muridnya bisa menemukan perbedaannya. Pada ketiga mainan itu terdapat lubang-lubang. Namun, jumlah dan letaknya berbeda-beda.

Di mainan pertama, ada lubang pada kedua telinganya.

Di mainan kedua, ada lubang di telinga dan mulutnya.

Di mainan ketiga, hanya ada satu lubang di satu telinganya.

Lalu, murid memasukkan satu jarum ke dalam lubang telinga mainan pertama. Jarum itu keluar dari telinga satunya lagi.

Pada mainan kedua, ketika jarum dimasukkan ke satu telinga, jarum itu malah keluar dari mulutnya. Dan di mainan ketiga, ketika jarum dimasukkan, malah sama sekali tidak bisa keluar.

Sang guru pun menjelaskan. Mainan pertama mencerminkan orang-orang di sekitar kita yang kelihatannya mendengarkan cerita kita dengan sungguh-sungguh dan peduli pada kita. Tapi, mereka sebenarnya hanya berpura-pura saja. Setelah mendengarkan, seperti halnya jarum yang keluar dari telinga satunya, cerita-cerita kita yang mereka dengar akan dilupakan begitu saja.

Mainan kedua adalah cerminan orang yang mendengarkan semua keluh kesah kita dan tampaknya peduli pada kita. Tapi seperti halnya mainan kedua tadi, jarum itu keluar dari mulutnya. Orang-orang seperti ini akan menggunakan cerita keluh kesah kita atau apa pun yang kita ceritakan kepada mereka untuk melawan kita atau justru mempermalukan kita dengan menceritakannya ke orang lain. Atau, mereka akan membocorkan cerita rahasia kita demi keuntungan mereka sendiri.

Mainan ketiga, di mana jarum tadi sama sekali tidak keluar ke mana-mana. Inilah gambaran orang-orang yang akan menjaga kepercayaan yang kita berikan pada mereka. Mereka inilah yang sejatinya bisa kita andalkan sebagai orang terpercaya.

Sobat Talenta, biarlah kisah tersebut di atas menjadi pembelajaran bagi kita, sebagai seorang yang mengaku percaya pada Tuhan Yesus Kristus, untuk belajar menjadi orang yang mau peduli terhadap orang lain, dengan tidak mengacuhkan orang yang berkeluh kesah kepada kita. Belajar menjadi orang yang berempati terhadap penderitaan orang lain, dengan tidak menyebarkan ataupun menceritakan pergumulan seseorang yang sudah mempercayai kita, dan sebaliknya biarlah kita menjadi orang yang mau menjadi tempat curhatan hati seseorang yang sedang dalam pergumulan, membantunya sesuai dengan kemampuan dan hikmat yang Tuhan berikan pada kita, dan yang terutama adalah menjadi orang yang dapat dipercaya untuk bisa menjaga kepercayaan dari orang lain kepada kita, dengan tidak menyebarkannya kepada siapapun. Biarlah karakter Kristus selalu menjadi landasan bagi kita dalam melakukan segala sesuatu. Karena terkadang, ketika seseorang terluka, yang dia butuhkan bukan kata yang mampu membuatnya tertawa, tetapi telinga yang mau untuk mendengarkan. Bagaimana menurut Anda?

Based on Talenta Renungan Inspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s