Posted in Kotbah GBI ROCK Tampa, Rohani

Berada di Tempat yang Tepat

Ps. Harry Purjo

rockRut 2:1-12. Dalam tiga bulan terkahir ini, kita belajar tentang the right happening. Dalam Rut 2:3, “Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.”, terdapat kata “kebetulan”. “Kebetulan” berarti nasib atau fortune. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kebetulan dalam hidup mereka, entah mereka adalah orang yang percaya pada Tuhan atau tidak. Right happening harus menjadi salah satu life style dalam kehidupan kita. Right happening bukanlah sebuah kebetulan, tapi itu adalah penentuan ilahi. Jika kita hidup dalam perjanjian Tuhan, maka berkat itu akan hidup dalam kita. Rut tidak mengalami kehidupan yang kebetulan karena Tuhan turut bekerja dalam kehidupannya. Jika kita hidup di dalam Tuhan, maka kita akan mengalami right happening. Lalu bagaimana caranya Rut mendapatkan rught happening?

  1. Rut Hidup dalam Perjanjian Tuhan

Pada mulanya Rut berasal dari bangsa Moab. Jika kita telusuri kehidupan bangsa Moab, maka kita akan menemukan bahwa bangsa Moab berasal dari keturunan Lot yang merupakan bangsa terkutuk. Suatu hari, Elimelekh, seorang Israel, keturunan Benyamin, masuk ke dalam bangsa yang terkutuk itu. Dalam Rut 1, diceritakan bahwa Elimelekh dan kedua anaknya meninggal sehingga meninggalkan istri dan kedua menantunya. Kehidupannya menjadi hancur pada waktu itu karena dia keluar dari perjanjian. Kemudian Rut tetap mengikuti Naomi, mertuanya. Kata Naomi berarti orang yang menyenangkan. Dalam Rut 1:16, “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;” Di sini kita tahu bahwa Rut adalah orang yang keluar dari perjanjian (karena dia berasal dari bangsa Moab) dan yang juga masuk ke dalam perjanjian (ketika dia berada di bangsa Israel).

Dalam cerita di atas, perbedaan bangsa Israel dengan bangsa lain dikarenakan adanya perjanjian (covenant) di dalamnya. Kita harus hidup di dalam perjanjian itu. JIka kita lihat, perjanjian yang kita miliki jauh lebih baik daripada perjanjian yang dimiliki Abraham (dalam tokoh Alkitab), Perjanjian lama beradasarkan pada darah domba, sedangkan perjanjian baru berdasarkan pada darah Yesus. Perjanjian lama hanyalah bayangan (shadow). Perjanjian yang dibuat untuk Abraham, Israel, Yakub, dan Daud adalah bayangan untuk perjanjian yang akan datang. Kita yang hidup dalam perjanjian baru adalah perjanjian yang lebih kuat, mulia, dan agung. Karena perjanjian yang sebenarnya adalah perjanjian dengan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

Dalam 1 Pet 2:9-10, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” Hal ini menggambarkan bahwa kita berada di dalam perjanjian Tuhan (Ef 3:3-6). Jika kita percaya pada Yesus, kta berada di dalam perjanjianNya. Right happening hanya bisa diperoleh dengan hidup dalam perjanjian Tuhan.

Perjanjian Tuhan membuat kita berbeda dengan orang lain karena kita hidup dalam berkat Tuhan. Dalam Rut 2:11-12, “Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.”

  1. Rut Memiliki Kemurahan Hati

Ketika Rut melihat mertuanya, dia tahu bahwa mertuanya tidak punya siapa-siapa lagi. Rut mempunyai belas kasihan atas apa yang dialami oleh mertuanya. Oleh karena itu, ia mengikutinya kemanapun dia pergi. Bahkan dikatakan bahwa Allah Naomi akan menjadi Allah Rut (Rut 1:16). Kita harus hidup dalam kemurahan. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. JIka kita hidup dalam kemurahan, maka kita akan mendapatkan kemurahan.

Rut mendapatkan kemurahan ketika dia mencoba untuk  meminta izin mengumpulkan jelai. Dalam Rut 2:8-9, “Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu.” Itu sebabnya, tidak ada yang sulit jika kita hidup di dalam kemurahan (favor) Tuhan.

Sumber : Ringkasan kotbah Minggu (30 Nopember 2014) di GBI R.O.C.K Tampa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s